Bagaimana caranya bisa terus menulis? *Sebuah tantangan terhadap diri sendiri*

Setelah melewati beberapa waktu, Saya mulai berpikir untuk menuangkan berbagai macam pikiran di sini. Entah karena pikiran itu tidak dibawa di beberapa tongkrongan atau mungkin juga sebagai pengingat kelak di kemudian hari. Kehidupan semakin membuat lingkar teman dekat, yang enak berdiskusi, semakin kecil.

Topiknya bisa berbagai macam hal. Mulai dari isu penting internasional hingga isi kancut. Eh bukan, jangan ambil alih tugas para netizennetizen itu. Saya cukup ihwal remeh-temeh saja. Beberapa mungkin agak sedikit sejarah sesuai ilmu dasar Saya.

Sebenarnya ingin membuat laman ini sedikit privat, agar bisa dipakai semacam buku harian. Namun hal tersebut nampaknya akan memberikan pr yang banyak. Salah satunya, membuat blog baru yang lebih terbuka. Ya sambil jalan saja deh dipikirin. Yang penting, bagaimana caranya bisa terus menulis saja

Advertisements
Posted in #Indonesia, #selfies, #TulisanTanpaSadar | Tagged , | Leave a comment

[REVIEW] Film: Love For Sale (?)

PSX_20180315_201454

Saya bingung untuk memulainya dari mana. Love For Sale, jalan ceritanya begitu relate dengan kehidupan saya. Saya seperti melihat diri saya 20 tahun ke depan. Hidup penuh kerjaan, keluar hanya akhir pekan, lalu terjebak diolokan tongkrongan, karena terus-menerus sendirian! Interpretasi Saya terhadap cerita film yang ingin disampaikan ialah, mau single atau pun taken tetap ada suka dukanya. :p

Gading Marten aktingnya bagus sekali. Awalnya saya tak menaruh espektasi terhadap perannya, namun, Gading mematahkan anggapan bahwa dirinya kurang bisa akting. His a really good actor! Definisi Aktor yang bagus menurut Saya ialah ketika Dia menjalankan perannya, seperti sedang tidak memerankan seorang tokoh.

Jokes-jokesnya juga dekat sekali dengan kehidupan. Well, kehidupan Jakarta. Bagaimana kehidupan bergeser ke selatan, tidak lagi di pusat. Pun jokes bahwa Depok jauh sekali dari Jakarta. Celetukan Gading juga pas sekali. Tak kurang dan tak berlebihan. paling epic udah pasti pas Galer. Top Markotop! hahaha

Peran pemain lainnya pun bagus-bagus sekali. Della Dartyan juga luwes sekali. Karena ia wanita panggilan, dalam kasus ini karena pesanan aplikasi  dating, terasa sekali kesan harus “memuaskan” pelanggannya. Sayang, peran Rukman Rosadi kurang banyak. Padahal, Saya menunggu banget tiap kali ia masuk frame. Begitupun Adriano Qalbi, meski dibanding film sebelumnya ia lebih banyak masuk framenamun kurang begitu greget.

Terima Kasih buat teman-teman dari Visinema Pictures yang telah membuat film yang begitu bagus. Sekali lagi, selamat!

Posted in #Indonesia, #TulisanTanpaSadar, [REVIEW] | Tagged , , , , | Leave a comment

Mulai Mendengarkan…

Maafkan atas 
segala bising yang berdesing. 
segala peluh yang keluar karena gaduh.
segala riuh yang tak bermuara hingga bergemuruh.

Kali ini, ijinkan Saya mulai mendengarkan.

Semarang, 7 Desember 2017. 3:42

Posted in Uncategorized | Leave a comment

[REVIEW]: Stand Up Comedy Special “Lo Pikir, Lo Keren”.

Lo Pikir Lo Keren Jogja diadakan pada 25 November 2017 kemarin di Hotel Ultima Riss Jogja. Meski lumayan molor dari yang dijadwalkan, 3 opener malam itu, Yusril, Iqbal dan Fico, berhasil mengempukkan show sebelum Adri naik ke panggung.

Saat Adri naik ke panggung, saya penasaran, orang ini akan buka show dengan bit apa? Seperti diketahui banyak orang (iya iya gak banyak yang kenal Adri hahaha), Adri biasanya membuka dengan “Mana yang menurut lo lebih kepo, cewek apa cowok?“. Namun karena ini spesial show, saya kira pasti akan sedikit berbeda. Ternyata saat Adri ingin membuka show, Ia bilang begini, “Gua tuh bingung harus bukanya gimana“. Karena terdengar jujur sekali, saat Ia berbicara seperti itu tawa langsung meledak.

Kemudian Adri tiba-tiba saja membelokan ke bit “Stiker Happy Famili di mobil”, tawa makin menggelegar. Adri belakangan ini memang dikenal sebagai comedian yang tidak menggunakan bridging seperti kebanyakan comedian lainnya. Ia pun sangat menyadari hal itu dan berbicara blak-blakan akan hal tersebut.

Selain dikenal comedian tanpa bridging, Adri juga dikenal sebagai comedian dengan bahan contekan. Kalau biasanya Ia membawa hape, kali ini contekannya ditulis seperti set-list musisi-musisi dan ditempel di panggung. Untuk yang belum terbiasa pasti akan kesal sekali menonton Adri yang dikit-dikit nyontek. Ia membela, bahwa stand up comedy bukanlah ajang jago hapalan, tapi jago ngelucu.

Malam itu Saya sangat terhibur sekali, dari awal niat untuk mereview sudah tertanam di benak saya. Saya selalu mencoba untuk mengingat kata-kata yang nantinya akan saya kutip, sialnya, setiap bit yang saya ingat, langsung digantikan dengan bit selanjutnya yang lebih lucu lagi.

Adri banyak sekali membawa topik untuk shownya, selain diuntungkan karena tanpa perlu bridging, Adri memang jago sekali dalam hal menganalogi satu hal dengan yang lainnya. Hal ini menurut saya salah satu skillnya Adri yang berbahaya sekali. Saya kira analoginya malam itu hampir tanpa meleset sekali pun.

Bit favorit saya untuk “Lo Pikir Lo Keren” kali ini mungkin jatuh pada bit adanya nabi yang turun di bumi sebagai jawaban dari segala permasalahan di dunia. Adri menganalogikan Dia bersama beberapa kolam tainya, hanya mengiya-iyakan saja dengan muka datar. Bit-bit relationship yang memang kekuatan Adri masih jadi yang paling pecah rasanya.

Ada kejadian lucu ketika Adri menutup shownya. Selang beberapa detik setelah ditutup, Ia minum dan melihat set-listnya, sialnya ternyata masih ada 2 bit lagi. Akhirnya Ia melanjutkan show yang sudah dia tutup.

Dengar-dengar sih katanya show “Lo Pikir Lo Keren” ini masuk ke trilogi-nya specianya Adri. Saya sih menunggu banget kelanjutannya. Semoga gak dapet sponsor ya Dri biar makin ngehe materinya. Kalau taksi Rajawali bolehlah. :))

Sekali Lagi selamat atas specialnya!

Posted in [REVIEW] | Tagged , , , , , | Leave a comment

[REVIEW] Film: “Marlina Si Pembunuh Empat Babak” yang kontekstual

PSX_20171118_021337.jpg

(Gambar Dokumen Pribadi)

Film ini dibuka dengan sangat epik, alam indah Sumba lalu tanpa basa-basi langsung menanjak ke konflik. Marlina (Marsha Timothy), pemain utama dalam film ini, adalah seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya. Markus (Egi Fedly) datang ke Rumah Marlina untuk menagih hutang, menyita harta serta harga dirinya.

Film besutan Director Mouly Surya ini berdurasi sekitar 90 Menit-an. Namun sialnya, Saya seperti tidak terasa diajak selama itu saat menonton. Kawan-kawan Cinesurya sangat tau sekali memanjakan penontonnya, dari alur cerita yang terus naik hingga gambar dan musik yang aduhai sekali untuk dilewatkan begitu saja.

Sulit sekali menggambarkan bagusnya film ini, Saya sepakat dengan Joko Anwar bahwa Film Marlina ini “whole new level buat Indonesian film”, karena memang begitu adanya. Cerita yang diangkat meskipun fiksi, namun Saya kira untuk banyak orang, kisah yang dialami Marlina dekat sekali dengan kenyataan. Sangat kontekstual bahkan. Bagaimana “digdaya”-nya kaum pria di Indonesia, serta lemahnya penanganan hukum di luar jantung kekuasaan negara, di luar Jawa maksud Saya, sulit sekali untuk dikatakan sebagai cerita fiksi.

Saya suka sekali karakter tokoh utama di film ini tidak dibuat sempurna, untuk beberapa adegan dibuat pasrah, namun melawan sekuat mungkin di lain adegan. Joke-joke yang dihadirkan pun sangat gelap sekali, getir bagi yang tidak relate dengan ceritanya, namun untuk yang lainnya membuat tertawa mungkin karena sudah berdamai dengan cerita tersebut.

Untuk pengambilan gambar sih luar biasa bagus, sudah mah profesional, ditambah alam Sumba yang luar biasa indah. Pengambilan adegan-adegannya pun terkadang membuat Saya menarik nafas sangking bagusnya, apalagi saat Marlina membalaskan amarahnya lalu tersenyum, saya masih ingat betul teriak takjub di dalam bioskop.

Selamat untuk para pemain, Mouly Surya dan kawan-kawan Cinesurya. Semoga ada film bagus lainnya!

Posted in #Indonesia, [REVIEW] | Leave a comment

Karena dengan perut dan otak yang tidak lagi kosong, seharusnya negara tak lagi kopong…

Senang sekali bertemu dengan seorang kawan lama. Tidak pernah mengenal secara dalam sebenarnya, namun jika bertemu, kami saling bertukar sapa, basa-basi sebentar barang 3-4 menit, lalu menajamkan pikiran dengan berdiskusi pada berjam-jam berikutnya.

Pembahasan selalu mengenai isu-isu terkini di negeri ini. Yang saya suka dari kawan lama ini ialah, dalam beberapa hal kami kerap kali tidak sependapat, bahkan terkadang berlawanan. Namun, itulah gunanya berdiskusi, bertukar pikiran satu sama lain, menyaman pehaman, bukan mencari siapa yang benar siapa yang salah.

Saya bukan notelun, bahkan belum pernah secara resmi menjadi notulen tentunya. Namun, dari obrolan kami tadi, saya berkesimpulan bahwa ada dua hal fundamental yang menjadi akar segala keriuhan akhir-akhir ini, yakni pendidikan dan perut yang belum kenyang.

Bagaimana bisa sebuah bangsa yang masih dalam tahap berkembang (penyebutan negara berkembang masih sangat debatable tentunya) ingin merubah menjadi sebuah negara maju, sedangkan tingkat pendidikan yang masih rendah dan perut yang masih kosong. Kenyangkan dulu perutnya, lalu isi otaknya. Maka masyarakat akan mafhum dengan apa dan bagaimana ia akan berjalan.

Karena dengan perut dan otak yang tidak lagi kosong, seharusnya negara tak lagi kopong…

Posted in #Indonesia, #Politik, #TulisanTanpaSadar | Tagged , | Leave a comment

[REVIEW] Film Banda The Dark Forgotten Trail

​Banda The Dark Forgotten Trail. 
Sebuah film dokumenter sejarah karya Jay Subyakto. Film berdurasi 94menit ini dibuka langsung dengan konflik. Tidak ada basa-basi sejak awal mula film.

Sesuai dengan judulnya, film ini berlatar sejarah kepulauan Banda yang mahsyur akan buah pala-nya. Pada masanya, buah pala ini pernah membawa Banda menjadi daerah komoditi penting bagi perdangan dunia. Jalur rempah khususnya.

Para kru Lifelike Pictures sepertinya berusaha keras untuk membuat film dokumenter yang bukan kacangan. Ini dibuktikan dengan banyaknya gambar yang ditampilkan, tone gambar yang ciamik, serta musik yang di sepanjang film turut menaik-turunkan emosi penonton.

Untuk ukuran film dokumenter, film Banda sangat menyenangkan. Hampir tak ada kata bosan di sepanjang film. Risetnya pun mendalam, bahkan, di akhir film disertakan daftar pustaka hasil tim riset. Pun narasumber yang ditampilkan ialah orang-orang yang memang memang mengerti dengan sejarah Banda.

Cerita paling menarik ialah ketika Pongky, salah satu narasumber di film,  menceritakan bagaimana suasana ketika ia berada di tengah kerusuhan yang muaranya berasal dari Maluku. Ia bercerita sangat lepas dan emosional. Untuk yang pernah membuat film dokumenter, gambar seperti ini sangat “mahal”.

Adegan paling epik adalah ketika ada seorang anak kecil yang menghentakkan kakinya di bawah logo V.O.C di salah satu benteng yang dibangun oleh V.O.C. Hal ini membuat bulu kuduk saya merinding saat adegan tersebut.

Untuk yang ingin berwisata sejarah tanpa berpergian, film Banda bisa dijadikan alternatif. Meskipun tak banyak layarnya dibanding film Indonesia lainnya, bukan berarti film ini tak layak ditonton, apalagi film ini risetnya gila-gilaan. Videografisnya pun sangat memanjakan mata.

Selamat untuk mas Jay Subyakto dan mba Lala Timothy atas film Banda-nya. Semoga Boven Digoel segera dibuat. #eh 🙂

*Note film ini tayang tanggal 3 Agustus 2017. Saya menonton pada tanggal 7 Agustus 2017 di Semarang. Pada tanggal 8 Agustus 2017, film ini sudah menghilang di layar Semarang. Sedih. :’)

Posted in Uncategorized | Leave a comment