Mulai Mendengarkan…

Maafkan atas 
segala bising yang berdesing. 
segala peluh yang keluar karena gaduh.
segala riuh yang tak bermuara hingga bergemuruh.

Kali ini, ijinkan Saya mulai mendengarkan.

Semarang, 7 Desember 2017. 3:42

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

[REVIEW]: Stand Up Comedy Special “Lo Pikir, Lo Keren”.

Lo Pikir Lo Keren Jogja diadakan pada 25 November 2017 kemarin di Hotel Ultima Riss Jogja. Meski lumayan molor dari yang dijadwalkan, 3 opener malam itu, Yusril, Iqbal dan Fico, berhasil mengempukkan show sebelum Adri naik ke panggung.

Saat Adri naik ke panggung, saya penasaran, orang ini akan buka show dengan bit apa? Seperti diketahui banyak orang (iya iya gak banyak yang kenal Adri hahaha), Adri biasanya membuka dengan “Mana yang menurut lo lebih kepo, cewek apa cowok?“. Namun karena ini spesial show, saya kira pasti akan sedikit berbeda. Ternyata saat Adri ingin membuka show, Ia bilang begini, “Gua tuh bingung harus bukanya gimana“. Karena terdengar jujur sekali, saat Ia berbicara seperti itu tawa langsung meledak.

Kemudian Adri tiba-tiba saja membelokan ke bit “Stiker Happy Famili di mobil”, tawa makin menggelegar. Adri belakangan ini memang dikenal sebagai comedian yang tidak menggunakan bridging seperti kebanyakan comedian lainnya. Ia pun sangat menyadari hal itu dan berbicara blak-blakan akan hal tersebut.

Selain dikenal comedian tanpa bridging, Adri juga dikenal sebagai comedian dengan bahan contekan. Kalau biasanya Ia membawa hape, kali ini contekannya ditulis seperti set-list musisi-musisi dan ditempel di panggung. Untuk yang belum terbiasa pasti akan kesal sekali menonton Adri yang dikit-dikit nyontek. Ia membela, bahwa stand up comedy bukanlah ajang jago hapalan, tapi jago ngelucu.

Malam itu Saya sangat terhibur sekali, dari awal niat untuk mereview sudah tertanam di benak saya. Saya selalu mencoba untuk mengingat kata-kata yang nantinya akan saya kutip, sialnya, setiap bit yang saya ingat, langsung digantikan dengan bit selanjutnya yang lebih lucu lagi.

Adri banyak sekali membawa topik untuk shownya, selain diuntungkan karena tanpa perlu bridging, Adri memang jago sekali dalam hal menganalogi satu hal dengan yang lainnya. Hal ini menurut saya salah satu skillnya Adri yang berbahaya sekali. Saya kira analoginya malam itu hampir tanpa meleset sekali pun.

Bit favorit saya untuk “Lo Pikir Lo Keren” kali ini mungkin jatuh pada bit adanya nabi yang turun di bumi sebagai jawaban dari segala permasalahan di dunia. Adri menganalogikan Dia bersama beberapa kolam tainya, hanya mengiya-iyakan saja dengan muka datar. Bit-bit relationship yang memang kekuatan Adri masih jadi yang paling pecah rasanya.

Ada kejadian lucu ketika Adri menutup shownya. Selang beberapa detik setelah ditutup, Ia minum dan melihat set-listnya, sialnya ternyata masih ada 2 bit lagi. Akhirnya Ia melanjutkan show yang sudah dia tutup.

Dengar-dengar sih katanya show “Lo Pikir Lo Keren” ini masuk ke trilogi-nya specianya Adri. Saya sih menunggu banget kelanjutannya. Semoga gak dapet sponsor ya Dri biar makin ngehe materinya. Kalau taksi Rajawali bolehlah. :))

Sekali Lagi selamat atas specialnya!

Dipublikasi di [REVIEW] | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

[REVIEW] Film: “Marlina Si Pembunuh Empat Babak” yang kontekstual

PSX_20171118_021337.jpg

(Gambar Dokumen Pribadi)

Film ini dibuka dengan sangat epik, alam indah Sumba lalu tanpa basa-basi langsung menanjak ke konflik. Marlina (Marsha Timothy), pemain utama dalam film ini, adalah seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya. Markus (Egi Fedly) datang ke Rumah Marlina untuk menagih hutang, menyita harta serta harga dirinya.

Film besutan Director Mouly Surya ini berdurasi sekitar 90 Menit-an. Namun sialnya, Saya seperti tidak terasa diajak selama itu saat menonton. Kawan-kawan Cinesurya sangat tau sekali memanjakan penontonnya, dari alur cerita yang terus naik hingga gambar dan musik yang aduhai sekali untuk dilewatkan begitu saja.

Sulit sekali menggambarkan bagusnya film ini, Saya sepakat dengan Joko Anwar bahwa Film Marlina ini “whole new level buat Indonesian film”, karena memang begitu adanya. Cerita yang diangkat meskipun fiksi, namun Saya kira untuk banyak orang, kisah yang dialami Marlina dekat sekali dengan kenyataan. Sangat kontekstual bahkan. Bagaimana “digdaya”-nya kaum pria di Indonesia, serta lemahnya penanganan hukum di luar jantung kekuasaan negara, di luar Jawa maksud Saya, sulit sekali untuk dikatakan sebagai cerita fiksi.

Saya suka sekali karakter tokoh utama di film ini tidak dibuat sempurna, untuk beberapa adegan dibuat pasrah, namun melawan sekuat mungkin di lain adegan. Joke-joke yang dihadirkan pun sangat gelap sekali, getir bagi yang tidak relate dengan ceritanya, namun untuk yang lainnya membuat tertawa mungkin karena sudah berdamai dengan cerita tersebut.

Untuk pengambilan gambar sih luar biasa bagus, sudah mah profesional, ditambah alam Sumba yang luar biasa indah. Pengambilan adegan-adegannya pun terkadang membuat Saya menarik nafas sangking bagusnya, apalagi saat Marlina membalaskan amarahnya lalu tersenyum, saya masih ingat betul teriak takjub di dalam bioskop.

Selamat untuk para pemain, Mouly Surya dan kawan-kawan Cinesurya. Semoga ada film bagus lainnya!

Dipublikasi di #Indonesia, [REVIEW] | Meninggalkan komentar

Karena dengan perut dan otak yang tidak lagi kosong, seharusnya negara tak lagi kopong…

Senang sekali bertemu dengan seorang kawan lama. Tidak pernah mengenal secara dalam sebenarnya, namun jika bertemu, kami saling bertukar sapa, basa-basi sebentar barang 3-4 menit, lalu menajamkan pikiran dengan berdiskusi pada berjam-jam berikutnya.

Pembahasan selalu mengenai isu-isu terkini di negeri ini. Yang saya suka dari kawan lama ini ialah, dalam beberapa hal kami kerap kali tidak sependapat, bahkan terkadang berlawanan. Namun, itulah gunanya berdiskusi, bertukar pikiran satu sama lain, menyaman pehaman, bukan mencari siapa yang benar siapa yang salah.

Saya bukan notelun, bahkan belum pernah secara resmi menjadi notulen tentunya. Namun, dari obrolan kami tadi, saya berkesimpulan bahwa ada dua hal fundamental yang menjadi akar segala keriuhan akhir-akhir ini, yakni pendidikan dan perut yang belum kenyang.

Bagaimana bisa sebuah bangsa yang masih dalam tahap berkembang (penyebutan negara berkembang masih sangat debatable tentunya) ingin merubah menjadi sebuah negara maju, sedangkan tingkat pendidikan yang masih rendah dan perut yang masih kosong. Kenyangkan dulu perutnya, lalu isi otaknya. Maka masyarakat akan mafhum dengan apa dan bagaimana ia akan berjalan.

Karena dengan perut dan otak yang tidak lagi kosong, seharusnya negara tak lagi kopong…

Dipublikasi di #Indonesia, #Politik, #TulisanTanpaSadar | Tag , | Meninggalkan komentar

[REVIEW] Film Banda The Dark Forgotten Trail

​Banda The Dark Forgotten Trail. 
Sebuah film dokumenter sejarah karya Jay Subyakto. Film berdurasi 94menit ini dibuka langsung dengan konflik. Tidak ada basa-basi sejak awal mula film.

Sesuai dengan judulnya, film ini berlatar sejarah kepulauan Banda yang mahsyur akan buah pala-nya. Pada masanya, buah pala ini pernah membawa Banda menjadi daerah komoditi penting bagi perdangan dunia. Jalur rempah khususnya.

Para kru Lifelike Pictures sepertinya berusaha keras untuk membuat film dokumenter yang bukan kacangan. Ini dibuktikan dengan banyaknya gambar yang ditampilkan, tone gambar yang ciamik, serta musik yang di sepanjang film turut menaik-turunkan emosi penonton.

Untuk ukuran film dokumenter, film Banda sangat menyenangkan. Hampir tak ada kata bosan di sepanjang film. Risetnya pun mendalam, bahkan, di akhir film disertakan daftar pustaka hasil tim riset. Pun narasumber yang ditampilkan ialah orang-orang yang memang memang mengerti dengan sejarah Banda.

Cerita paling menarik ialah ketika Pongky, salah satu narasumber di film,  menceritakan bagaimana suasana ketika ia berada di tengah kerusuhan yang muaranya berasal dari Maluku. Ia bercerita sangat lepas dan emosional. Untuk yang pernah membuat film dokumenter, gambar seperti ini sangat “mahal”.

Adegan paling epik adalah ketika ada seorang anak kecil yang menghentakkan kakinya di bawah logo V.O.C di salah satu benteng yang dibangun oleh V.O.C. Hal ini membuat bulu kuduk saya merinding saat adegan tersebut.

Untuk yang ingin berwisata sejarah tanpa berpergian, film Banda bisa dijadikan alternatif. Meskipun tak banyak layarnya dibanding film Indonesia lainnya, bukan berarti film ini tak layak ditonton, apalagi film ini risetnya gila-gilaan. Videografisnya pun sangat memanjakan mata.

Selamat untuk mas Jay Subyakto dan mba Lala Timothy atas film Banda-nya. Semoga Boven Digoel segera dibuat. #eh 🙂

*Note film ini tayang tanggal 3 Agustus 2017. Saya menonton pada tanggal 7 Agustus 2017 di Semarang. Pada tanggal 8 Agustus 2017, film ini sudah menghilang di layar Semarang. Sedih. :’)

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Tumbuh bersama karya…

Saya mengenal Pandji lebih dalam setidaknya sejak 2011, sejak saya menemukan link download album Merdesanya di Twitter. Cerita lebih lanjut mengenai “perkenalan” tersebut bisa dilihat di sini.

            Saya punya respect yang tinggi terhadap Pandji, terutama karyanya. Karya-karya Pandji,  merupakan karya-karya yang disebut oleh Adriano Qalbi sebagai karya yang slice of life, setipis kenyataan. Musik misalnya, lagu-lagu Pandji di album pertama, penuh dengan kehidupan pribadinya. Sebagai anak yang juga broken home, cerita di balik lagu “Dulu Dia Bukan Siapa-Siapa”, sangat relate dengan kehidupan saya. Cerita tentang hubungan ia dengan Ayahnya, baik di buku maupun di blog, sedikit-banyak berpengaruh dalam usaha saya memperbaiki hubungan dengan Bapak saya.

             Pandji juga membuka layer perspektif saya tentang negara. Dulu, saya adalah orang yang beranggapan bahwa politik adalah ruang yang abu-abu, kotor, penuh kegelapan, tempat di mana seharusnya bukan orang baik berada. Namun Pandji meyakinkan lewat lagu “DPR” bahwa ada peran lain yang bisa diambil dari luar ranah politik untuk terlibat di dalamnya, yakni pengawasan. Sebagai penikmat karya Pandji, tidak selamanya saya sependapat dengan argumen-argumen yang ia hadirkan pada karyanya. Misalnya ketika ia membuat tulisan untuk mendukung Jokowi maju menjadi presiden, saya tidak ikut mendukung, meskipun pada 2012 atas tulisannya lah saya juga mendukung Faisal Basri sebagai calon gubernur DKI Jakarta.

Hal ini saya sadari sebagai sebuah proses bertumbuh, meskipun sedikit-banyak saya “dicekoki” pemikiran Pandji. Pandji adalah pekarya dengan buah pikirnya, apapun itu akan dituangkan pada karyanya. Ia tidak perduli apakah orang setuju atau tidak, meskipun orang yang tidak setuju itu sudah merogoh kocek untuk membeli karyanya. Ketika pertama kali mengenal karya-karya Pandji, saya masih kelas 3 SMA kalau tidak salah, pemahaman saya akan literasi masih sangat rendah saat itu. Namun ketika saya mulai mengikuti karya-karya dia, saya mengalami perkembangan cara pikir, saya tertarik akan pembahasannya. Saya mulai banyak memperkaya pengetahuan, saya tidak mau hanya sekedar mengekor seseorang. Alasan saya masih mengikuti karya-karya Pandji hingga hari ini ialah karena saya merasa tumbuh bersama karyanya…PSX_20170618_025848.jpg

Dipublikasi di #Pandji, #PandjiPragiwaksono, Uncategorized | Meninggalkan komentar

[REVIEW] Film Istirahatlah Kata-Kata

​”Wiji Thukul nama yang sederhana, hidup yang sederhana, tapi nyali luar biasa. Bagaimana bisa anak seorang tukang becak jadi pemuda yang berbahaya di mata penguasa, kalau bukan karna tajamnya sebuah ucapan” Pandji – Menolak Lupa

Kalimat di atas merupakan penggalan lirik dari lagu Pandji Pragiwaksono yang berjudul Menolak Lupa. Saya pertama kali mendengar lagu tersebut sekitar tahun 2013. Dan untuk pertama kalinya pula Saya mengenal Mas Jikul, panggilan akrab Wiji Thukul. Mulai saat itu Saya mulai mencari tau siapa penyair tersebut yang dikemudian hari Saya ketahui berkarier sebagai penyair pelo, begitu ia menyebut dirinya.

Jumat kemarin, 27 Januari 2017, Saya berkesempatan menonton film dokumenter Thukul berjudul “Istirahatlah kata-kata”. Film besutan Anggi Noen yang berdurasi 97 Menit ini membawa Saya beromantisme di era 90an yang penting itu.

Film tersebut menjelaskan bagaimana masa-masa “pelarian” Thukul semasa pencarian setelah ditetapkan sebagai salah satu aktivis yang bertanggungjawab pada kerusuhan 27 Juli 1996. Thukul dianggap terlibat karena “kelompok kerja” pimpinannya dianggap sebagai onderbouw Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Film ini awalnya banyak menuai pro-kontra di kalangan pergerakan karena dianggap hanya untuk kalangan menengah atas. Namun menurut Saya, pilihan menghadirkan #ThukulDiBioskop merupakan upaya melawan lupa yang paling tepat. Kalangan menengah ahistoris ini, kalau tidak boleh menyebut kelas menengah ngehe, kebanyakan sangat merindukan rejim militer berkuasa. Padahal, rejim tersebutlah yang menghilangkan Thukul beserta aktivis lainnya.

Film ini begitu bagus, sesuai dengan judulnya, banyak sekali adegan heningnya. Keadaan sunyi ini turut menambah suasana mecekam saat pelarian Thukul. Belum lagi siulan lagu Darah Juang yang ditampilkan Sipon di sela-sela film. Luar biasa!

Dialog terakhir Sipon dengan Thukul di akhir film masih terbayang di otak Saya sampai detik ini. “Aku ra pengen kowe lungo, tapi Aku ya ra pengen kowe teko. Aku mung pengen kowe ono.” Kira-kira arti kasarnya “Aku gak mau Kamu pergi, tapi ya Aku gak mau Kamu datang (pulang). Aku cuma mau Kamu ada.”

Setelah Sipon dan Thukul berdialog di akhir, Thukul lalu pergi… Lalu muncul lagu Fajar Merah, anak Thukul, yang berjudul Bunga dan Tembok feat dengan Cholil. 

Dan entah mengapa Saya menangis ketika ending film. Teks di layar muncul tulisan mengenai hilangnya Thukul, kemenangan aktivis 98, jatuhnya rejim Soeharto ditambah lagu Fajar Merah tadi turut membuat air mata Saya jatuh. 

Saya sering nangis saat nonton film, terutama adengan anak-orang tua yang pisah. Namun nangis saat ending film Istirahatlah kata-kata cukup berbeda.

Ada perasaan senang saat teks menampilkam bahwa rejim Soeharto jatuh, Saya seperti menjadi bagian dari para aktivis tersebut. Hampir seluruh tubuh Saya merinding dengan hebatnya. Terutama di bagian tangan. Mungkin yang satu baris dengan Saya saat menonton menyadari Saya nangis, karena tangisan Saya cukup terisak sepertinya.

Semoga upaya untuk menolak lupa ini bisa menjadi pengingat yang baik. Bahwa pada masanya, pernah ada rejim yang menghilangkan rakyatnya karena hanya menuntut kebebasan dan kesetaraan yang dicita-citakan demokrasi. Bahwa pada masanya, rakyat harus selalu nurut dengan pemerintahnya ketika tanahnya dirampas, haknya dirampas. Bahwa pada masanya, kata rakyat dianggap membahayakan dan harus diganti menjadi masyarakat. 

Selamat beristirahat kata-kata, selamat beristirahat Mas Jikul… 

Dipublikasi di #TulisanTanpaSadar | Tag , , , | Meninggalkan komentar